Keluar Darah Saat Hamil? Jangan Panik, Ini Penyebab & Tanda Bahayanya
Mendapati adanya darah yang keluar saat kehamilan tentu membuat Ibu merasa cemas dan panik. Namun, tarik napas dalam-dalam. Perdarahan vagina selama kehamilan memang memiliki banyak penyebab, di mana beberapa kondisi bersifat serius, namun sebagian lainnya tidak.
Perdarahan ringan di awal kehamilan sering kali dapat berhenti dengan sendirinya. Meski begitu, perdarahan terkadang dapat menimbulkan risiko bagi Ibu maupun janin. Kapan pun perdarahan terjadi—baik di awal maupun di akhir kehamilan Ibu harus segera memberi tahu dokter kandungan, karena kesehatan Ibu dan bayi sangat bergantung pada penanganan yang tepat waktu.
Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai penyebab perdarahan berdasarkan usia kandungan serta tanda-tanda yang harus Ibu waspadai.
Penyebab Perdarahan di Awal Kehamilan (Trimester Pertama)
Sangat umum bagi wanita untuk mengalami bercak atau perdarahan vagina dalam 12 minggu pertama kehamilan. Kondisi ringan ini bisa disebabkan oleh perdarahan serviks saat berhubungan seksual atau karena adanya infeksi serviks.
Namun, Ibu mungkin memerlukan perawatan khusus jika risiko komplikasi meningkat, seperti ancaman persalinan prematur, bayi lahir terlalu kecil, atau risiko keguguran. Dokter biasanya akan melakukan pemeriksaan panggul, menanyakan volume darah yang keluar, tingkat keparahan nyeri, mengukur kadar hCG lewat tes darah, hingga melakukan ultrasonografi (USG).
Kondisi serius yang memicu perdarahan di awal kehamilan meliputi:
- Risiko Keguguran Keguguran terjadi pada sekitar 15–20% kehamilan, dan paling sering terjadi pada 13 minggu pertama. Perlu diingat, perdarahan tidak selalu berarti keguguran pasti terjadi; sekitar setengah dari wanita hamil yang mengalami perdarahan terbukti tidak mengalami keguguran. Tanda-tanda keguguran yang harus diwaspadai meliputi:
- Adanya perdarahan dari vagina.
- Rasa nyeri atau kram di perut bagian bawah yang seringkali lebih kuat daripada kram saat menstruasi.
- Keluarnya jaringan dari vagina.
Sebagian besar keguguran adalah cara tubuh mengatasi kehamilan yang tidak normal dan tidak dapat dicegah. Tidak ada bukti medis bahwa olahraga, hubungan seks, pekerjaan, atau stres menjadi penyebabnya. Mengalami keguguran juga tidak berarti Ibu tidak bisa memiliki anak lagi di masa depan.
2. Kehamilan Ektopik (Hamil di Luar Kandungan) Kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi tidak menempel di rahim, melainkan di tempat lain yang paling sering berada di tuba falopi. Kondisi ini memicu nyeri dan perdarahan di awal kehamilan. Kehamilan ektopik tergolong jarang, terjadi pada sekitar 1 dari 60 kehamilan. Risiko utama dan paling berbahaya adalah jika tuba falopi pecah. Pecahnya tuba falopi dapat memicu perdarahan internal yang menyebabkan kelemahan, pingsan, syok, hingga kematian, sehingga memerlukan penanganan darurat segera.
Penyebab Perdarahan di Akhir Kehamilan
Jika perdarahan terjadi di paruh kedua kehamilan, penyebabnya berbeda. Masalah ringan bisa berupa peradangan atau pertumbuhan pada serviks yang dapat diobati dengan obat-obatan. Namun, perdarahan berat di akhir kehamilan dapat mengancam kesehatan ibu maupun janin, dan umumnya berakar dari masalah plasenta.
- Abrupsio Plasenta (Plasenta Lepas) Kondisi ini terjadi ketika plasenta terlepas dari dinding rahim sebelum atau selama persalinan, sehingga pasokan oksigen ke janin dapat berkurang. Abrupsio plasenta dialami oleh hanya 1% wanita hamil dan biasanya terjadi pada 12 minggu terakhir sebelum persalinan. Kondisi ini sering kali menimbulkan rasa sakit di area perut, meskipun perdarahannya terlihat ringan atau bahkan tidak terlihat dari luar.
- Plasenta Previa Plasenta previa terjadi ketika plasenta berada di posisi rendah di dalam rahim sehingga menutupi sebagian atau seluruh lubang serviks. Kondisi yang terjadi pada 1 dari 200 wanita ini memicu perdarahan vagina yang sering kali muncul tanpa disertai rasa sakit.
- Tanda Awal Persalinan Keluarnya sejumlah kecil lendir yang bercampur darah dari serviks (disebut juga "tanda perdarahan") adalah hal yang umum sebagai tanda persalinan. Ini bukanlah masalah jika terjadi dalam 3 minggu sebelum HPL (Hari Perkiraan Lahir) Ibu. Namun, jika terjadi jauh lebih awal, ini bisa menjadi tanda persalinan prematur. Segera hubungi dokter jika Ibu juga merasakan:
- Keputihan yang bertambah banyak, encer, berlendir, atau berdarah.
- Rasa tertekan di panggul atau perut bawah.
- Sakit punggung bawah yang tumpul serta kram perut (bisa disertai diare).
- Kontraksi atau pengencangan rahim yang teratur.
Kapan Ibu Harus Segera ke Rumah Sakit?
Bagi sebagian wanita, perdarahan hanyalah gangguan kecil yang tidak butuh pengobatan, namun bagi yang lain, ini adalah peringatan bahaya. Jika Ibu mengalami perdarahan di akhir kehamilan, segera cari pertolongan medis karena kondisi serius mungkin mengharuskan rawat inap, transfusi darah, atau persalinan dini melalui operasi caesar.
Jangan tunda untuk memeriksakan diri. Kesehatan Ibu dan janin bergantung pada diagnosis medis yang cepat dan akurat.
Layanan Kegawatdaruratan Kandungan di Surabaya
Jika Ibu mengalami perdarahan dan membutuhkan penanganan segera di Surabaya, Tim medis dan fasilitas IGD RSIA Lombok Dua Dua Surabaya siap melayani 24 jam. Ibu juga dapat menjadwalkan konsultasi USG komprehensif bersama tim dokter spesialis Obgyn kami yang berpengalaman untuk memastikan kehamilan berjalan aman.